Sabtu

Cita-cita Hampa 63 Tahun Merdeka


MERDEKA! Satu kata inilah yang menggetarkan Bumi Pertiwi, 63 tahun silam. Hampir setiap jengkal republik ini begitu suka cita. Bangsa tercinta ini terbebas dari cengkeraman penjajah.

Meminjam kata-kata Gombloh dalam untaian syair lagu Merah Putih, merah darahku, putih tulangku, itulah Indonesia-ku.Tak seorang pun kala Bangsa ini merdeka, memperdebatkan asal-usul, ras, agama dan suku.

Seluruh keanekaragaman asal-usul rakyat menyatu dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Bangsa kita pun sepakat meletakkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai sendi hidup bernegara, berbangsa dan bermasyarakat.

Semua suku, umat beragama, dan ras, bergandeng-tangan sebagai warga negara Indonesia. Begitu membahagiakan, dan membanggakan sebagai warga Republik Indonesia. Wajar, dan seharusnya begitu, mengingat panjangnya masa getir nan kelam hidup di bawah kaki kolonial.

Tiga setengah abad dijajah Belanda dan sekian tahun ditindas pasukan samurai Jepang, adalah kehidupan getir tak terkira. Ratusan juta jiwa, dan mungkin miliaran nenek moyang kita jadi korban kebengisan penjajah.

Oleh karena itu, sungguh berkah tak terkira, ketika bangsa Indonesia merdeka. Tuhan Yang Esa memberi tanda waktu, 17 Agustus 1945 sebagai momentum sejarah bangsa kita. Merdeka! Tak hanya secara fisik, juga psikis.

Warga Indonesia bebas berpikir, bebas mencari nafkah, bebas menjalankan aktifitas sosial budaya, serta bebas menunaikan ibadah menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Tentu bebas, bukan bebas seenak gue.


Kebebasan tetap dalam konsensial, berada dalam bingkai Pancasila dan UUD 1945 sebagai dasar negara ini. Di dunia, faktanya tak ada kebebasan absolut, sekalipun di Amerika Serikat yang memproklamirkan sebagai negara paling demokratis di jagad ini.

Seiring perkembangan masyarakat, kehidupan berbangsa dan bernegara, republik ini telah melalui orde demi orde. Mulai Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi, dan kini memasuki Orde Global.

Sepanjang itulah, bangsa ini belum tiba pula pada cita-cita nasional yang didambahkan segenap rakyat dan bangsa. Terciptanya masyarakat cerdas dan adil makmur, sungguh masih jauh. Sekitar 39 juta dari 200 juta penduduk negeri ini, masih tepekur dalam jurang kemiskinan dan kebodohan.

Keadilan dan kepastian hukum masih menjadi utopia, belum bisa dirasakan anak bangsa. Di bidang akhlak pun, bangsa ini sedang mengalami dekandensi moral. Anak-anak melawan orangtua, bahkan di tanah Sumatera anak menghamili ibu kandungnya. Demikian halnya orangtua lelaki, teramat banyak kisah hitam di antero Nusantara.

Corak kehidupan sosial dan budaya generasi muda, terperosok nun jauh ke wilayah global jagad ini. Gaya hidup global, dan spesifik Eropa menjadi imperative ideas. Lupa jatidiri, lupa adat, lupa bangsa sendiri. Krisis akhlak, diri, dan krisis budaya bangsa melanda negeri ini.

Muaranya, kehidupan materi menjadi tujuan utama. Hidup untuk makan. Hidup untuk senang- senang, hidup untuk kemewahan duniawi. Inilah yang memenjara perwujudan cita-cita para pahlawan kita. Pahlawan bangsa ini ‘menangis’ dalam kubur, menyaksikan ulah faktual kita di Bumi Pertiwi selama 63 tahun ini.

Para pemimpin, apakah pemimpin di daerah maupun pemimpin nasional, kenyataannya belum mampu membawa bangsa ini menapaki cita-cita bangsa. Sebaliknya, mereka yang berada di pemerintahan dan di perwakilan rakyat, justru berlomba memupuk pundi-pundi rupiah dan harta, sekalipun melalui jalan korupsi.

Sudah banyak kepala daerah maupun wakil rakyat yang dipenjarakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), tapi belum juga ada efek jera yang signifikan. Ada yang salah dalam sistem ketatanegaraan ini.

Timor Timur telah melepaskan diri. Aceh yang berikrar setia NKRI masih meradang. Warga perbatasan di Kalimantan Barat bahkan lebih mengenal Malaysia daripada Indonesia. Siapa salah? Sebagai pemimpin negeri, patut malu dan berani mengakui fakta ini.

Kini saatnya merenung dan berbuat konkret dengan hati nurani, bukan sekadar mengandalkan otak yang cenderung menipu. Bukan pula sekedar kontemplasi dalam ritual renungan malam 17 Agustusan.Tapi, bertanya pada diri masing-masing. Apa yang telah kuperbuat untuk negeri tercinta ini? Bagaimana pula memberi sumbangsih terhadap pencapaian cita-cita negeri ini. (*)

Label:

1 Komentar:

Blogger perjuangan mengatakan...

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

10 Januari 2009 pukul 08.20  

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda